Sabtu, 15 Januari 2011

Rain melatih MBLAQ, seperti melatih anak sendiri

Sebuah klip yg menunjukkan Rain sedang mengajarkan koreografi pada MBLAQ untuk lagu “Stay” muncul. Di video itu, Rain muncul di tempat latihan tari dan mengajarkan koreo pada MBLAQ. Rain memulai dengan berkata, “Apakah kalian bekerja keras ? Seberapa baik persiapan koreografi kalian ?” Lalu, Rain menunjukkan langkah2 tarian lagu ‘Stay’ pada MBLAQ.

“Rain seperti ayahnya MBLAQ,” “Rain sangat sensitive dan pria yg peduli dan saying pada juniornya.”

Meski ada juga yg menulis, “Mereka semua sangat tegang ketika Rain datang, padahal Rain memakai kaos bertuliskan ’Relax’. Sebuah ironi…”

Rain juga membuat sebuah lagu di album MBLAQ ini, judulnya ‘My Dear’

Message from Rain :)

Hello^^, this is Jung Ji Hoon.

This winter is especially cold though...This December, we experienced the coldest Christmas Day in 30 years.

You folks must wear warm enough and stay healthy!

Today, I come to say hello is mainly due to the hot topic about the business cooperation with Park Jin Young.

I am not JYP’s artist instead “It’s simply a business strategy” forecasted the best partnership.

In fact, I am only one of the artists of J.Tune Entertainment Inc. I didn’t own any shares.

I would like to emphasize that I don’t have any operating authority. Here is my verification and please do not misinterpret.

I and Park Jin Young (brother) have the same ideas and this decision was made after many discussions. I would like to present something new to everybody before I join the army.

Moreover, I met Park Jin Young (brother) and used “Rain” as debut 10 years ago. If I can wrap up ending with Park Jin Young (brother) before I join army. It is a very meaningful for both of us. Over the past 10 years, I have dedicated all my twentish to Rain.

I would like to express my true appreciation for those always love me in these years.

In the coming 2011, I will be 30 years old. I look forward to exploring another opportunity.

Simply imagining of re-union with my master and new images for everybody, it’s already an exciting thing.

I must bring the best performance to FANS

Please continue to cheer for me.

You, Please stay healthy in the winter.

Thank you.



-From Jung Ji Hoon-



source: http://www.rain-jihoon.com/n2/fromrain_view.php?page=1&No=13&bSeq=472

Cerpenku ^^

sebenernya ini cerpen di tugasin sm guru bhs. Indonesia di sekolah, tapi katanya ada yang pengen bgt baca cerpen aku (katanya ...), jadi aku masukin ke blog ..
nama tokoh yang jadi cowonya, aku ambil dr nama idola aku, Jeong Ji-hoon (Rain). hehehe :D .. tapi kl yang cewenya bikin sendiri, bingung sih ...
so, enjoy this story guys .. I hope u like it .. :)



Persahabatan di Negeri Ginseng






















Hai, namaku Kim Yoon-ji. Aku sangat senang, orang tuaku sangat memperhatikanku. Mulai dari pola makanku, pekerjaan sekolahku dan masih banyak lagi. Ada yang selalu membuatku selalu merasa bahagia. Jeong Ji-hoon. Dialah sahabatku. Dia sangat baik dan selalu melindungiku. Sejak kecil kami bermain bersama. Orang tua kami berteman sangat baik. Kami dilahirkan pada waktu yang sama. Meskipun begitu, aku selalu memanggilnya dengan nama kakak. Kami bersahabat hampir 9 tahun. Karena orang tualah, kami bisa menjalin persahabatan selama ini.

Itulah sebagian dari curhatan Kim Yoon-ji yang ia tulis dibuku diary-nya yang baru. Gadis asal Korea yang berumur 16 tahun ini sangat menyayangi keluarga dan teman-temannya. Ia memiliki semua yang teman-temannya tidak punya. Namun, ia tidak segan-segan untuk berbagi dengan teman-temannya. Kalau bercerita tentang sahabatnya, Ji-hoon sangat dikagumi oleh teman-teman wanita di sekolahnya. Ada yang bilang kalau Ji-hoon adalah pangeran yang turun dari langit. Namun, Ji-hoon tidak terlalu mempedulikan statusnya itu. Ia lebih memfokuskan untuk belajar. Ia ingin sekali menjadi business man. Makanya dia sangat tekun belajar.

Pagi itu Yoon-ji melihat sahabatnya menaiki sepeda untuk berangkat ke sekolah. Namun, ada yang aneh dari sahabatnya itu. Ji-hoon terlihat tidak rapih, rambutnya liar kemana-mana. Yoon-ji berencana untuk menanyakan keadaan Ji-hoon di sekolah. Setibanya di sekolah, ia melihat Ji-hoon tampak pucat sedang duduk di bangkunya.

“Kakak, ada apa denganmu?” tanya Yoon-ji cemas.

“Tidak, memangnya kenapa?” jawab Ji-hoon sambil meletakkan wajahnya di meja.

“Ketika aku akan berangkat, aku melihatmu dengan keadaan yang sangat kacau. Bajumu berantakan, rambutmu seperti tidak kau sisir dan sekarang wajahmu tampak pucat. Apa kakak sakit?”

“Mungkin baju dan rambutku tidak rapih karena aku buru-buru. Dan aku juga tidak sakit, hanya saja aku belum sarapan.” ucap Ji-hoon tak semangat.

“Apa? Kau belum sarapan? Aku akan mengantarmu ke kantin.” kata Yoon-ji sambil menarik tangan sahabatnya.

“Tidak.” ujar Ji-hoon.

“Kenapa?”

“Aku sangat malas.”

“Untuk urusan perut kau masih mengabaikannya? Dasar kau!”

Yoon-ji menarik tangan sahabatnya dengan sekuat tenaga. Akhirnya, Ji-hoon pun mengalah dan bersedia untuk sarapan di kantin.

Bel masuk pun berbunyi. Mereka langsung memasuki kelas. Mereka sangat konsentrasi pada saat belajar, apalagi pelajaran kesukaan mereka adalah IPA. Meskipun Ji-hoon anak pandai, kadang dia selalu mengganggu konsentrasi belajar Yoon-ji. Dengan selembar kertas, mereka gunakan untuk saling mengejek satu sama lain. Namun, ejekan itu hanya menjadi suatu candaan bagi mereka. Jam menunjukkan pukul 13.30. Semua murid bersiap untuk pulang. Karena rumah Yoon-ji dan Ji-hoon satu arah, mereka selalu pulang bersama dengan menaiki sepeda milik Ji-hoon. Sebelum sampai ke rumah, mereka selalu menyempatkan untuk pergi ke tepi sungai Han. Duduk bersama merasakan sejuknya angin yang berhembus.

“Kakak.” ucap Yoon-ji.

“Apa?”

“Kau masih ingat waktu pertama kita datang ke tempat ini?”

“Ya. Waktu itu kita berumur 8 tahun. Kita melarikan diri dari sekolah karena kau tidak menyukai pelajaran matematika.” kata Ji-hoon sambil tersenyum. “Kenapa kau tanyakan ini?”

“Tidak. Ternyata otakmu masih berfungsi. Itu memang pelarian yang sangat sukses.” ucap Yoon-ji sambil tertawa.

“Memangnya otakku otak udang?” jawab Ji-hoon sinis.

Pukul 15.00 mereka memutuskan untuk pulang. Karena langit sudah terlihat sangat hitam dan sepertinya akan turun hujan. Dugaan mereka benar, tidak lama kemudian hujan pun turun sangat deras. Dengan keadaan basah dan dingin, mereka menaiki sepada menelusuri jalanan dan berharap segera sampai di rumah.

Keesokan harinya, karena sekolah sedang libur, Ji-hoon berencana untuk mengajak Yoon-ji pergi jalan-jalan. Dengan menggunakan subway, tempat pertama yang akan mereka kunjungi adalah Itaewon. Di sana banyak yang menjual gantungan kunci, kaos sampai dengan sepatu. Sesampainya mereka di sana, mereka memutuskan untuk membeli gantungan kunci yang sama. Selain Itaewon, mereka juga mengunjungi Youngpung Bookstore. Toko buku yang menjadi toko favorit mereka. Ji-hoon melihat kebahagian yang tersirat diwajah Yoon-ji. Dia sangat menyadari bahwa Yoon-ji adalah sahabat sekaligus adik yang sangat berharga dan harus selalu ia lindungi. Namun, Ji-hoon terkejut ketika melihat darah yang keluar dari hidung Yoon-ji. Dia mengusapnya dan berkata, “Hidungmu berdarah.”

“Apa? Berdarah?” ucap Yoon-ji kaget.

“Iya. Kenapa? Kau sakit?” kata Ji-hoon dengan perasaan cemas.

“Tidak. Aku baik-baik saja. Ini hanya mimisan biasa. Tenanglah!” jawab Yoon-ji sambil tersenyum.

Yoon-ji mulai merasa aneh. Hampir setiap hari darah keluar dari hidungnya dan sering sekali pingsan di sekolah. Ia pergi ke dokter untuk memeriksakan keadaannya. Setelah pemeriksaan selesai, dia tahu penyebabnya sekarang. Ia langsung pulang untuk memberitahu orang tuanya.

“Ibu, Ayah, Yoon-ji ingin memberitahukan sesuatu.” katanya dengan terbata-bata. “Yoon-ji sakit. Kanker otak. Tadi pagi Yoon-ji pergi ke dokter dan dokter memvonis penyakit ini.”

Orang tua Yoon-ji sangat terkejut dan Yoon-ji meminta agar penyakitnya dirahasiakan dari Ji-hoon.

Satu minggu ini Ji-hoon tidak melihat sahabatnya. Jelas Ji-hoon sangat cemas. Bahkan di sekolah, dia tidak berhasil menemukan Yoon-ji. Yoon-ji pergi seakan-akan ditelan bumi. Tidak ada kabar. Bahkan keluarganya pun ikut menghilang. Setelah berminggu-minggu ditinggalkan oleh sahabatnya, Ji-hoon melihat Yoon-ji dengan orang tuanya berada di dalam sebuah mobil tepat melewati depan rumahnya. Ji-hoon segera mengejar, tapi mobil itu terlalu cepat melaju.

Di sekolah Ji-hoon bertemu dengan Yoon-ji.

“Kemana saja kau selama ini? Aku sangat mengkhawatirkanmu?” kata Ji-hoon dengan ekspresi marah.

“Aku pergi ke Singapore. Aku ada kepentingan keluarga. Maaf aku tidak memberitahumu, karena keadaannya sangat mendesak.”

“Apa saja yang kau kerjakan di sana? Kau menghilang hampir dua bulan. Bukan saatnya untuk liburan.” ucap Ji-hoon.

“Aku sudah bilang kalau aku ada kepentingan keluarga yang tidak bisa aku tinggalkan. Dan siapa juga yang pergi untuk liburan.”

“Kau tidak membohongiku kan?” ucap Ji-hoon dengan tatapan yang sangat tajam.

“Sungguh, kak. Aku tidak mungkin membohongimu. Maafkan aku.” kata Yoon-ji sambil mengemis minta maaf.

“Baiklah, akan ku maafkan. Tapi awas kalau kau menghilang tanpa jejak lagi.”

“Memangnya kenapa kalau aku menghilang lagi?”

“Tidak ada yang membantu dan menemaniku mengerjakan tugas. Berminggu-minggu aku mengerjakan tugas seorang diri. Kau memang menyusahkan.”

“Hahahaha.. Iya iya, maaf.”

Yoon-ji meninggalkan Ji-hoon dengan senyum, namun perasaan menyesal menggelayuti hati dan pikirannya.

Tidak ada tanda-tanda Yoon-ji ketika jam pulang sekolah. Ji-hoon bingung mencari. Dia ingin pulang bersama-sama seperti biasa. Ketika Ji-hoon menelusuri lorong-lorong sekolah, dia mendapati seorang wanita yang sedang menangis. Memeluk lutut dengan kepala ditenggelamkan ke dada. Ji-hoon menghampirinya. Ternyata itu Yoon-ji. Ji-hoon duduk di depannya. Dengan tangan bergetar, dia mengusap kepala Yoon-ji. Yoon-ji memandanginya. Air matanya berlinang deras menjalari seluruh penjuru wajahnya. Ji-hoon mengusap air mata yang penuh misteri itu.

“Kenapa kau menangis? Apa aku berbuat jahat padamu?” tanya Ji-hoon.

“Tidak, kau tidak pernah berbuat jahat padaku. Terima kasih selama ini kau selalu melindungiku, menjagaku dan menjadi kakak yang baik untukku. Maaf selama ini aku selalu menyusahkanmu.” ucap Yoon-ji sambil tersedu-sedu.

“Maksudmu apa?”

“Aku bohong padamu. Aku bohong kalau aku pergi ke Singapore.”

“Lalu, kau kemana?”

“Aku pergi ke Amerika untuk pengobatan.”

“Pengobatan? Kau sakit?” tanya Ji-hoon dengan perasaan terkejut.

“Kanker… Kanker otak.”

“Apa? Lalu bagaimana hasilnya?”

“Sudah tidak ada harapan lagi.” jawab Yoon-ji dengan air mata yang mengalir semakin deras.

Tubuh Ji-hoon mendadak lemas. Jantungnya berdetak tak beraturan. Apakah ini hanya candaan semata?

Ji-hoon masih tak percaya atas apa yang terjadi. Hatinya terasa seperti disayat-sayat pedang samurai yang sangat tajam. Kenapa ini terjadi kepada Yoon-ji? Kata-kata itu yang selalu ada dipikirannya.

Hari ini Ji-hoon berencana untuk mengajak Yoon-ji pergi ke tepi sungai Han. Dia menjemput Yoon-ji menggunakan sepeda yang biasa mereka tumpangi. Ji-hoon melihat wajah Yoon-ji yang tidak semangat. Namun, Ji-hoon bertekad akan mengembalikan senyum Yoon-ji yang hilang dan akan kembali menghiasi wajah Yoon-ji yang cantik. Sesampainya di sana, mereka duduk lesehan ditemani beberapa camilan.

“Apa kau kedinginan, adik kecil?” tanya Ji-hoon.

Namun, hanya senyuman yang menjadi jawaban.

“Pakailah! Aku tidak ingin kau merasa kedinginan.” ucap Ji-hoon sembari memakaikan jaketnya ke tubuh Yoon-ji.

“Kakak.” kata Yoon-ji dengan suara agak serak.

“Apa?”

“Kenapa Tuhan memvonisku dengan penyakit ini?” tanya Yoon-ji dengan air mata yang menggenang dimatanya.

Ji-hoon terdiam. Apa yang harus dia katakan? Dia pun bingung karena perasaan takut dan was-was selalu menghantuinya.

“Tuhan menyayangimu. Sangat menyayangimu lebih dari apapun. Aku yakin akan hal itu. Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang melampaui batas manusia. Kau juga harus yakin kalau Tuhan selalu ada disetiap langkah kemana pun kau pergi.”

Air mata pun jatuh membasahi wajah Yoon-ji. Sudah hampir 4 jam mereka duduk dan mengobrol di sana. Tiba-tiba kepala Yoon-ji jatuh tepat di pundak Ji-hoon. Matanya terpejam rapih. Senyumnya yang sangat indah tergambar di wajah Yoon-ji yang sangat cantik. Ji-hoon mulai merasa takut. Ia memberanikan diri untuk memeriksa. Dia meletakkan jari telunjuknya di bawah hidung Yoon-ji. Tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan di dalam diri Yoon-ji. Ia sudah tak kuasa menahan tangisannya. Air mata Ji-hoon pun menetes memecah keheningan. Dia mendekap Yoon-ji dengan erat, berharap semua ini tidak terjadi. Hatinya lebih tersayat dibandingkan dengan sayatan saat Yoon-ji divonis kanker otak. Namun, apa yang bisa ia perbuat. Inilah takdir Tuhan yang tidak dapat dihindari.


Selasa, 11 Januari 2011

MBLAQ - Cry

HAN-GEUL =>

A! Time is too slow for me baby
Listen this girl

(Ah Ah) 흐르는 눈물에 지우려
(Ah Ah) 깨끗하게 너의 곁을 떠날 밖에
(Ah Ah) 너무 쉽게 떠나가려
(Ah Ah) 여잘 믿지마

싸늘하게 식은 목소리 거친 눈초리
차디찬 마른 입술
Hey baby say 어떻게 해야 어떻게
돌아 올수 있겠니

U make me cry ()
내가 살아가는 이유
제발 떠나지마
Just tell me why (why)
눈물을 닦아줘 말해줘 I'm so crazy (yeah)
소리쳐 불러 (불러) 크게 외쳐 불러 (불러)
이게 끝이 아니야 너무 아파 아이야
복받쳐 불러 (불러) 제발 나를 버리지마 baby

Oh baby U make me cry yeah
Oh baby U make me cry yeah
Oh baby just tell me why yeah
Oh baby U make me cry yeah


나의 전부야 다른 남잔 아니야
후회 하고 말걸 나만의 Yo my girl
하루 하루 지나갈수록 아파
참을 수가 없어

하얗게 어느새 하얗게
버려진 모습 싫어
Hey baby say 까맣게 이렇게 까맣게
타들어만 가잖아

U make me cry ()
살아가는 이유
제발 떠나지마
Just tell me why (why)
눈물을 닦아줘 말해줘 I'm so crazy (yeah)
리쳐 불러 (불러) 크게 외쳐 불러 (불러)
이게 끝이 아니야 너무 아파 아이야
복받쳐 불러 (불러) 제발 나를 버리지마 baby

I Don't make me cry (Don't make me cry)
물이 앞을 가려 없잖아
숨이 막혀 이름을 외쳐도 (Oh)
들리지 않나봐 더이상
참겠어 I need you in my life
눈물이 끝일 있게 나를 감싸 안아줄래

다시 돌아와 줄때까지
여기 서있어 girl 밤낮 없이

친구들은 비참하데 huh it's OK cause
없인 두근두근 뛰던 심장이
굳어버린 마네킹 처럼 텅빈 껍질
Come back love girl I'm so sorry
Come back love girl I'm so sorry

Ah~ No No No U don't make me cry (cry)
이제 울다 울다 지쳐 쓰러져만 가잖아
괜찮아 (Ah)
내게 돌아와줘 어서 I'm so crazy
리쳐 불러 (불러) 크게 외쳐 불러 (불러)
이게 끝이 아니야 너무 아파 아이야
복받쳐 불러 (불러) 제발 나를 떠나지마 baby

Oh baby U make me cry yeah
Oh baby U make me cry yeah
Oh baby just tell me why yeah
Oh baby U make me cry yeah


ROMANJI=>

A! Time is too slow for me baby
Listen this girl

(Ah Ah) Heureuneun nunmure nol jiuryo he
(Ah Ah) Kkekkeuthage noye gyoteul ttonal su bakke
(Ah Ah) Non nomu swipge ttonagaryo he
(Ah Ah) Yojal mitjima

Ssaneulhage sigeun moksori gochin ni nunchori
Oh chadichan me mareun ipsul
Hey baby say na ottohge heya he ottohge
No dora olsu itgeni

You make me cry (non)
Nega saraganeun iyu
Jebal nal ttonajima

Just tell me why (why)
Oh nunmureul dakkajwo malhejwo I'm so crazy (yeah)
Sorichyo bullo (bullo) keuge wichyo bullo (bullo)
Ige kkeuti aniya nomu apa aiya
Bokbatchyo bullo (bullo) jebal nareul borijima baby

Oh baby U make me cry yeah
Oh baby U make me cry yeah
Oh baby just tell me why yeah
Oh baby U make me cry yeah

Non naye jonbuya dareun namjan aniya
Huhwihago malgol naman-eui Yo my girl
Haru haru jinagalsurok apa nan
Do chameul suga opso

Oh hayatge oneuse hayatge
Oh boryojin ne moseup siro
Hey baby say na kkamatge irohge kkamatge
Da tadeuroman gajana

You make me cry (non)
Nega saraganeun iyu
Jebal nal ttonajima
Just tell me why (why)
Oh nunmureul dakkajwo malhejwo I'm so crazy (yeah)

Sorichyo bullo (bullo) keuge wichyo bullo (bullo)
Ige kkeuti aniya nomu apa aiya
Bokbatchyo bullo (bullo) jebal nareul borijima baby

I Don't make me cry
(Don't make me cry)
Nunmuri apeul garyo bol su opjana
Sumi makhyo ni ireumeul wichyodo (Oh)
Non deulliji annabwa doisang
Mot chamgesso I need you in my life
I nunmuri kkeutil su itge nareul gamssa anajulle

Dasi dorawa julttekkaji
Nan yogi soisso girl bamnat opso
Chin-gudeureun bichamhade huh it's OK cause
Nan no opsin dugeun-dugeun ttwidon simjangi
Gudoborin maneking chorom tongbin kkomjil
Come back love girl I'm so sorry

Ah~ No No No U don't make me cry (cry)
Ije ulda ulda jichyo sseurojyoman gajana
Nan gwenchana (Ah)
No nege dorawajwo oso no I'm so crazy

Sorichyo bullo (bullo) keuge wichyo bullo (bullo)
Ige kkeuti aniya nomu apa aiya
Bokbatchyo bullo (bullo) jebal nareul borijima baby

Oh baby U make me cry yeah
Oh baby U make me cry yeah
Oh baby just tell me why yeah
Oh baby U make me cry yeah