nama tokoh yang jadi cowonya, aku ambil dr nama idola aku, Jeong Ji-hoon (Rain). hehehe :D .. tapi kl yang cewenya bikin sendiri, bingung sih ...
so, enjoy this story guys .. I hope u like it .. :)
Persahabatan di Negeri Ginseng
Hai, namaku Kim Yoon-ji. Aku sangat senang, orang tuaku sangat memperhatikanku. Mulai dari pola makanku, pekerjaan sekolahku dan masih banyak lagi. Ada yang selalu membuatku selalu merasa bahagia. Jeong Ji-hoon. Dialah sahabatku. Dia sangat baik dan selalu melindungiku. Sejak kecil kami bermain bersama. Orang tua kami berteman sangat baik. Kami dilahirkan pada waktu yang sama. Meskipun begitu, aku selalu memanggilnya dengan nama kakak. Kami bersahabat hampir 9 tahun. Karena orang tualah, kami bisa menjalin persahabatan selama ini.
Itulah sebagian dari curhatan Kim Yoon-ji yang ia tulis dibuku diary-nya yang baru. Gadis asal Korea yang berumur 16 tahun ini sangat menyayangi keluarga dan teman-temannya. Ia memiliki semua yang teman-temannya tidak punya. Namun, ia tidak segan-segan untuk berbagi dengan teman-temannya. Kalau bercerita tentang sahabatnya, Ji-hoon sangat dikagumi oleh teman-teman wanita di sekolahnya. Ada yang bilang kalau Ji-hoon adalah pangeran yang turun dari langit. Namun, Ji-hoon tidak terlalu mempedulikan statusnya itu. Ia lebih memfokuskan untuk belajar. Ia ingin sekali menjadi business man. Makanya dia sangat tekun belajar.
Pagi itu Yoon-ji melihat sahabatnya menaiki sepeda untuk berangkat ke sekolah. Namun, ada yang aneh dari sahabatnya itu. Ji-hoon terlihat tidak rapih, rambutnya liar kemana-mana. Yoon-ji berencana untuk menanyakan keadaan Ji-hoon di sekolah. Setibanya di sekolah, ia melihat Ji-hoon tampak pucat sedang duduk di bangkunya.
“Kakak, ada apa denganmu?” tanya Yoon-ji cemas.
“Tidak, memangnya kenapa?” jawab Ji-hoon sambil meletakkan wajahnya di meja.
“Ketika aku akan berangkat, aku melihatmu dengan keadaan yang sangat kacau. Bajumu berantakan, rambutmu seperti tidak kau sisir dan sekarang wajahmu tampak pucat. Apa kakak sakit?”
“Mungkin baju dan rambutku tidak rapih karena aku buru-buru. Dan aku juga tidak sakit, hanya saja aku belum sarapan.” ucap Ji-hoon tak semangat.
“Apa? Kau belum sarapan? Aku akan mengantarmu ke kantin.” kata Yoon-ji sambil menarik tangan sahabatnya.
“Tidak.” ujar Ji-hoon.
“Kenapa?”
“Aku sangat malas.”
“Untuk urusan perut kau masih mengabaikannya? Dasar kau!”
Yoon-ji menarik tangan sahabatnya dengan sekuat tenaga. Akhirnya, Ji-hoon pun mengalah dan bersedia untuk sarapan di kantin.
Bel masuk pun berbunyi. Mereka langsung memasuki kelas. Mereka sangat konsentrasi pada saat belajar, apalagi pelajaran kesukaan mereka adalah IPA. Meskipun Ji-hoon anak pandai, kadang dia selalu mengganggu konsentrasi belajar Yoon-ji. Dengan selembar kertas, mereka gunakan untuk saling mengejek satu sama lain. Namun, ejekan itu hanya menjadi suatu candaan bagi mereka. Jam menunjukkan pukul 13.30. Semua murid bersiap untuk pulang. Karena rumah Yoon-ji dan Ji-hoon satu arah, mereka selalu pulang bersama dengan menaiki sepeda milik Ji-hoon. Sebelum sampai ke rumah, mereka selalu menyempatkan untuk pergi ke tepi sungai Han. Duduk bersama merasakan sejuknya angin yang berhembus.
“Kakak.” ucap Yoon-ji.
“Apa?”
“Kau masih ingat waktu pertama kita datang ke tempat ini?”
“Ya. Waktu itu kita berumur 8 tahun. Kita melarikan diri dari sekolah karena kau tidak menyukai pelajaran matematika.” kata Ji-hoon sambil tersenyum. “Kenapa kau tanyakan ini?”
“Tidak. Ternyata otakmu masih berfungsi. Itu memang pelarian yang sangat sukses.” ucap Yoon-ji sambil tertawa.
“Memangnya otakku otak udang?” jawab Ji-hoon sinis.
Pukul 15.00 mereka memutuskan untuk pulang. Karena langit sudah terlihat sangat hitam dan sepertinya akan turun hujan. Dugaan mereka benar, tidak lama kemudian hujan pun turun sangat deras. Dengan keadaan basah dan dingin, mereka menaiki sepada menelusuri jalanan dan berharap segera sampai di rumah.
Keesokan harinya, karena sekolah sedang libur, Ji-hoon berencana untuk mengajak Yoon-ji pergi jalan-jalan. Dengan menggunakan subway, tempat pertama yang akan mereka kunjungi adalah Itaewon. Di sana banyak yang menjual gantungan kunci, kaos sampai dengan sepatu. Sesampainya mereka di sana, mereka memutuskan untuk membeli gantungan kunci yang sama. Selain Itaewon, mereka juga mengunjungi Youngpung Bookstore. Toko buku yang menjadi toko favorit mereka. Ji-hoon melihat kebahagian yang tersirat diwajah Yoon-ji. Dia sangat menyadari bahwa Yoon-ji adalah sahabat sekaligus adik yang sangat berharga dan harus selalu ia lindungi. Namun, Ji-hoon terkejut ketika melihat darah yang keluar dari hidung Yoon-ji. Dia mengusapnya dan berkata, “Hidungmu berdarah.”
“Apa? Berdarah?” ucap Yoon-ji kaget.
“Iya. Kenapa? Kau sakit?” kata Ji-hoon dengan perasaan cemas.
“Tidak. Aku baik-baik saja. Ini hanya mimisan biasa. Tenanglah!” jawab Yoon-ji sambil tersenyum.
Yoon-ji mulai merasa aneh. Hampir setiap hari darah keluar dari hidungnya dan sering sekali pingsan di sekolah. Ia pergi ke dokter untuk memeriksakan keadaannya. Setelah pemeriksaan selesai, dia tahu penyebabnya sekarang. Ia langsung pulang untuk memberitahu orang tuanya.
“Ibu, Ayah, Yoon-ji ingin memberitahukan sesuatu.” katanya dengan terbata-bata. “Yoon-ji sakit. Kanker otak. Tadi pagi Yoon-ji pergi ke dokter dan dokter memvonis penyakit ini.”
Orang tua Yoon-ji sangat terkejut dan Yoon-ji meminta agar penyakitnya dirahasiakan dari Ji-hoon.
Satu minggu ini Ji-hoon tidak melihat sahabatnya. Jelas Ji-hoon sangat cemas. Bahkan di sekolah, dia tidak berhasil menemukan Yoon-ji. Yoon-ji pergi seakan-akan ditelan bumi. Tidak ada kabar. Bahkan keluarganya pun ikut menghilang. Setelah berminggu-minggu ditinggalkan oleh sahabatnya, Ji-hoon melihat Yoon-ji dengan orang tuanya berada di dalam sebuah mobil tepat melewati depan rumahnya. Ji-hoon segera mengejar, tapi mobil itu terlalu cepat melaju.
Di sekolah Ji-hoon bertemu dengan Yoon-ji.
“Kemana saja kau selama ini? Aku sangat mengkhawatirkanmu?” kata Ji-hoon dengan ekspresi marah.
“Aku pergi ke Singapore. Aku ada kepentingan keluarga. Maaf aku tidak memberitahumu, karena keadaannya sangat mendesak.”
“Apa saja yang kau kerjakan di sana? Kau menghilang hampir dua bulan. Bukan saatnya untuk liburan.” ucap Ji-hoon.
“Aku sudah bilang kalau aku ada kepentingan keluarga yang tidak bisa aku tinggalkan. Dan siapa juga yang pergi untuk liburan.”
“Kau tidak membohongiku kan?” ucap Ji-hoon dengan tatapan yang sangat tajam.
“Sungguh, kak. Aku tidak mungkin membohongimu. Maafkan aku.” kata Yoon-ji sambil mengemis minta maaf.
“Baiklah, akan ku maafkan. Tapi awas kalau kau menghilang tanpa jejak lagi.”
“Memangnya kenapa kalau aku menghilang lagi?”
“Tidak ada yang membantu dan menemaniku mengerjakan tugas. Berminggu-minggu aku mengerjakan tugas seorang diri. Kau memang menyusahkan.”
“Hahahaha.. Iya iya, maaf.”
Yoon-ji meninggalkan Ji-hoon dengan senyum, namun perasaan menyesal menggelayuti hati dan pikirannya.
Tidak ada tanda-tanda Yoon-ji ketika jam pulang sekolah. Ji-hoon bingung mencari. Dia ingin pulang bersama-sama seperti biasa. Ketika Ji-hoon menelusuri lorong-lorong sekolah, dia mendapati seorang wanita yang sedang menangis. Memeluk lutut dengan kepala ditenggelamkan ke dada. Ji-hoon menghampirinya. Ternyata itu Yoon-ji. Ji-hoon duduk di depannya. Dengan tangan bergetar, dia mengusap kepala Yoon-ji. Yoon-ji memandanginya. Air matanya berlinang deras menjalari seluruh penjuru wajahnya. Ji-hoon mengusap air mata yang penuh misteri itu.
“Kenapa kau menangis? Apa aku berbuat jahat padamu?” tanya Ji-hoon.
“Tidak, kau tidak pernah berbuat jahat padaku. Terima kasih selama ini kau selalu melindungiku, menjagaku dan menjadi kakak yang baik untukku. Maaf selama ini aku selalu menyusahkanmu.” ucap Yoon-ji sambil tersedu-sedu.
“Maksudmu apa?”
“Aku bohong padamu. Aku bohong kalau aku pergi ke Singapore.”
“Lalu, kau kemana?”
“Aku pergi ke Amerika untuk pengobatan.”
“Pengobatan? Kau sakit?” tanya Ji-hoon dengan perasaan terkejut.
“Kanker… Kanker otak.”
“Apa? Lalu bagaimana hasilnya?”
“Sudah tidak ada harapan lagi.” jawab Yoon-ji dengan air mata yang mengalir semakin deras.
Tubuh Ji-hoon mendadak lemas. Jantungnya berdetak tak beraturan. Apakah ini hanya candaan semata?
Ji-hoon masih tak percaya atas apa yang terjadi. Hatinya terasa seperti disayat-sayat pedang samurai yang sangat tajam. Kenapa ini terjadi kepada Yoon-ji? Kata-kata itu yang selalu ada dipikirannya.
Hari ini Ji-hoon berencana untuk mengajak Yoon-ji pergi ke tepi sungai Han. Dia menjemput Yoon-ji menggunakan sepeda yang biasa mereka tumpangi. Ji-hoon melihat wajah Yoon-ji yang tidak semangat. Namun, Ji-hoon bertekad akan mengembalikan senyum Yoon-ji yang hilang dan akan kembali menghiasi wajah Yoon-ji yang cantik. Sesampainya di sana, mereka duduk lesehan ditemani beberapa camilan.
“Apa kau kedinginan, adik kecil?” tanya Ji-hoon.
Namun, hanya senyuman yang menjadi jawaban.
“Pakailah! Aku tidak ingin kau merasa kedinginan.” ucap Ji-hoon sembari memakaikan jaketnya ke tubuh Yoon-ji.
“Kakak.” kata Yoon-ji dengan suara agak serak.
“Apa?”
“Kenapa Tuhan memvonisku dengan penyakit ini?” tanya Yoon-ji dengan air mata yang menggenang dimatanya.
Ji-hoon terdiam. Apa yang harus dia katakan? Dia pun bingung karena perasaan takut dan was-was selalu menghantuinya.
“Tuhan menyayangimu. Sangat menyayangimu lebih dari apapun. Aku yakin akan hal itu. Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang melampaui batas manusia. Kau juga harus yakin kalau Tuhan selalu ada disetiap langkah kemana pun kau pergi.”
Air mata pun jatuh membasahi wajah Yoon-ji. Sudah hampir 4 jam mereka duduk dan mengobrol di sana. Tiba-tiba kepala Yoon-ji jatuh tepat di pundak Ji-hoon. Matanya terpejam rapih. Senyumnya yang sangat indah tergambar di wajah Yoon-ji yang sangat cantik. Ji-hoon mulai merasa takut. Ia memberanikan diri untuk memeriksa. Dia meletakkan jari telunjuknya di bawah hidung Yoon-ji. Tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan di dalam diri Yoon-ji. Ia sudah tak kuasa menahan tangisannya. Air mata Ji-hoon pun menetes memecah keheningan. Dia mendekap Yoon-ji dengan erat, berharap semua ini tidak terjadi. Hatinya lebih tersayat dibandingkan dengan sayatan saat Yoon-ji divonis kanker otak. Namun, apa yang bisa ia perbuat. Inilah takdir Tuhan yang tidak dapat dihindari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar